Dalam sebuah cerita romance, ada yang namanya ‘meet cute’, istilah yang menggambarkan pertemuan pertama dua karakter—yang kalau dalam serial televisi kerap digambarkan dengan adegan tabrakan, saling benci, lalu jatuh cinta.
Nyatanya, sebuah romansa tidak selalu dimulai dari insiden.
Romansa ini dimulai dengan amat sederhana yang bahkan pemiliknya sendiri pun sulit untuk mencari titik ‘meet cute’-nya. Tapi, agar tulisan ini tidak menjadi sia-sia, mari kita sepakati saja waktunya.
2016, pada tahun itu perkenalan dan pertemanan dimulai.
2017 - 2019, komunikasi terputus, tapi pertemanan tidak.
Di pengujung 2019, kami bertemu lagi di sosial media, dengan kehidupan yang berbeda, rutinitas yang berbeda, tempat tinggal yang berbeda, serta arah hati yang mungkin sudah berbeda pula.
2020, ketika pandemi memaksa setiap penduduk bumi untuk membuat jarak, sepasang tangan tak kasat mata justru membuat kami menjadi dekat—tangan Tuhan.
Dari obrolan-obrolan panjang di kolom chatting-an, perasaan itu bertumbuh, ‘pertemanan’ menuntut sesuatu yang lebih dari sekadar ‘teman’.
Sebagaimana seorang manusia bertumbuh, kita tidak punya hitungan pasti berapa pertumbuhan tinggi badan seorang bayi per hari. Yang kita tahu, setelah tidak bertemu beberapa bulan atau tahun, mungkin si bayi sudah pandai merangkak atau berlari.
Begitupun perasaan. Tidak ada hitungan pasti kapan kata ‘teman’ berubah menjadi ‘nyaman’. Kita baru tersadarkan ketika merasa ada yang kurang di saat tidak ada sepotong kata ‘hai’ dalam sehari.
November 2020, kata ‘teman’ mulai terdengar menyebalkan.
Hanya TEMAN? Yang bener saja!!!
Tidak. Tidak ada lagi pertemanan. Di titik ini, romansa mulai kami sepakati.
2020-2024, romansa ini berjalan dengan berpegangan pada pertemuan yang hanya 2 sampai 3 kali dalam setahun; LDR. Kata orang-orang, itu sulit. Tapi ternyata tidak sesulit itu. Karena untuk menbangun sebuah hubungan yang ‘secure’, amat diperlukan kata ‘saling’—saling percaya, saling menjaga, saling mengusahakan.
2024, kami memberanikan diri untuk melangkah, menghadapkan wajah ke orangtua satu sama lain untuk menunjukkan bahwa tujuan kami berikutnya adalah menikah.
Mei 2025, pertemuan dua keluarga.
Juni 2025, cincin menjadi lambang keseriusan.
November 2025, kami mengukuhkan janji suci pernikahan dan resepsi pertama di kediaman mempelai wanita.
April 2026, resepsi kedua di kediaman mempelai pria.