Angin sore berembus sepoi-sepoi, membawa aroma tanah kering yang tersiram air. Aku sedang duduk melepas penat di bangku kayu Warung Bu Teti, menikmati jeda di tengah rutinitas yang melelahkan. Namun, ketenanganku terusik ketika seorang wanita melangkah masuk.
la tampak begitu anggun. Gerak-geriknya tenang saat memesan minuman kepada Bu Teti. Aku terpaku, spontan menoleh dan tak mampu mengalihkan pandangan. Kecantikannya bukan hanya pada paras, tapi pada pembawaannya yang membuat suasana warung yang sederhana itu tiba-tiba terasa berbeda.
"Cantik sekali..." bisik hatiku.
Ada gejolak di dada untuk sekadar menyapa atau menanyakan nama, namun keraguan menahan lidahku. Aku hanya diam mematung, berdebat dengan rasa tidak percaya diri.
Keadaan menjadi genting saat Bu Teti menyerahkan pesanannya. Wanita itu tersenyum tipis, membayar, lalu berbalik untuk pergi. Melihat punggungnya yang mulai menjauh, detak jantungku berpacu kencang. Aku sadar, jika aku tetap diam, momen ini akan hilang selamanya.
Tanpa pikir panjang, aku berdiri dari bangku. Kakiku melangkah cepat, hampir berlari mengejarnya sebelum ia benar-benar menghilang di tikungan jalan.
"Tunggu!" seruku sedikit terengah.
la berhenti dan berbalik dengan tatapan bertanya. Di sanalah, di bawah langit sore yang mulai jingga, keberanianku terkumpul. Kami akhirnya saling melempar senyum, mengawali sebuah perkenalan yang tidak akan pernah kulupakan.