Semua dimulai tahun 2013. Bayangkan, dua bocah kelas 2 SMP duduk di satu kelas yang sama, diam-diam jadian, tapi tidak ada satu pun makhluk di sekola bahkan teman sebangku yang tahu kalau kami pacaran. Berasa jadi agen rahasia, ya? Tapi misi itu cuma bertahan dua bulan. Singkat, padat, dan rahasia tetap terjaga sampai bubar.
Nah, di sinilah bagian paling absurd-nya. Setelah putus, kami mendadak jadi juara bertahan dalam lomba "pura-pura tidak kenal". Bayangkan saja, dari sisa masa SMP sampai tiga tahun penuh di SMK, kami tetap berada di satu sekolah yang sama tapi berhasil mencetak rekor: nol tegur sapa.
Kalau berpapasan di koridor? Buang muka. Kalau tidak sengaja satu area di kantin? Mendadak sibuk lihat langit atau mendadak jadi pengamat semut di lantai. Kami benar-benar seperti dua orang asing yang sedang menjalani program perlindungan saksi. Padahal kalau diingat-ingat, alasan putusnya pun kami sudah lupa, tapi gengsinya itu yang luar biasa awet!
Setelah lulus, semesta membawa kami ke petualangan masing-masing yang cukup panjang. Di saat kami benar-benar tidak lagi saling bicara, kami justru sedang sibuk menulis cerita dengan orang lain. Kami sama-sama pernah singgah di hati yang berbeda, menjalin hubungan bertahun-tahun, mencoba membangun masa depan yang ternyata bukan milik kami. Kami pernah merasakan jatuh sejatuh-jatuhnya, patah sepatah-patahnya, dan berkali-kali mencoba meyakinkan diri bahwa "mungkin memang bukan dia orangnya."
Lucunya, di sela-sela petualangan itu, kami sempat dipertemukan lagi di tahun 2023. Kami mengobrol, tertawa, bahkan jalan bareng layaknya orang pacaran tapi ego kami masih tinggi. Kami melabeli diri "cuma teman" sampai akhirnya komunikasi itu kembali hilang ditelan bumi. Kami kembali menjadi dua orang asing untuk yang kesekian kalinya.
Sampai akhirnya di tahun 2026, kami tersadar. Setelah lelah mencari dan berkali-kali patah hati di tempat yang salah, komunikasi itu terbuka lagi. Kali ini nggak pakai lama, nggak pakai drama, kami langsung sepakat: "Oke, capek nyari yang lain, mending kita nikah aja." Kali ini tantangannya bukan lagi soal gengsi di koridor sekolah, melainkan jarak ribuan kilometer yang memisahkan Indonesia dan Malaysia.
Siapa sangka, setelah belasan tahun "perang dingin" dan berkelana mencari ke mana-mana, jawaban dari semua doa kami justru ada pada orang yang dulu pernah duduk satu kelas dengan kami. Enam bulan LDR berbekal panggilan video dan rindu yang tertunda, kami sadar tidak perlu lagi mencari yang jauh, kalau yang lama ternyata adalah yang paling tepat.
"Ternyata, Tuhan tidak pernah benar-benar memisahkan kami, Dia hanya memberi kami waktu untuk tumbuh, agar saat kami kembali bertemu, kami sudah menjadi versi terbaik untuk satu sama lain. Setelah belasan tahun berkelana, kami akhirnya paham: cinta pertama bukan hanya tentang siapa yang datang paling awal, tapi tentang siapa yang tetap tinggal meski dunia sempat menjauhkan. Kini, kami berhenti mencari. Karena sejauh apa pun kaki melangkah, rumah kami tetaplah satu sama lain."
Mohon doa restunya untuk kami berdua, dua mantan yang akhirnya insyaf dan memutuskan buat seatap!